Wanipah TKW Tervonis Mati di Tiongkok

INDRAMAYU - Derai air mata Nasriah (55) dan nenek Jena (70) tak tertahan ketika membuka kembali lembaran surat dari putri sulung dan cucunya yang merantau ke Tiongkok, manakala mereka membaca salah satu penggalan kalimat salah satu pucuk surat.
"Ma... Mama,..., ada yang kangen ga sama aku...! Aku sangat kangen sekali sama kalian. Aku udah kirim surat ketiga kali ini, kok ga ada balasan satu pun dari kalian. Emang suratku gak nyampe ya...?" tutur Nasriah sambil berlinang air mata dirumahnya di Desa Sendang Blok Kartiyah, RT 04/02, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu.
Demikianlah sepenggal kalimat dari surat yang dibacakan Nasriah, ibunda Wanipah (32), seorang tenaga kerja wanita asal Kabupaten Indramayu yang terancam hukuman mati di Beijing, Tiongkok.
Wanipah diduga menjadi kurir narkoba yang tertangkap tangan membawa heroin saat memasuki Bandar Xiaoshan, Hangzhou, Tiongkok pada tahun 2010 lalu.
Nasriah mengaku heran dengan isi surat ketiga dari enam surat yang dikirim Wanipah. Pasalnya, dia sudah memberikan balasan tiga kali, tetapi ternyata tidak ada yang sampai ke tangan Wanipah.
"Terakhir dia kirim surat sekitar Desember 2014, isinya mendoakan keluarga dan jangan mengkhawatirkan dirinya. Dia bilang baik-baik saja," ucapnya sambil terharu dengan ketabahan anaknya.
Kasus yang dialami gadis berambut panjang ini seolah tak berujung. Pasalnya, selama hampir lima tahun terakhir, keluarga Wanipah tak mendapat kabar mengenai perihal nasibnya. Seolah membuka luka lama, Nasriah kembali membuka-buka lembaran dokumen-dokumen milik Wanipah serta membaca beberapa surat dari putrinya. Kendati pilu, Nasriyah bersedia menuturkan awal mula keberangkatan putrinya ke negeri bambu pada Agustus 2008 silam.
"Sebelum ke Tiongkok, dia pernah bekerja di Singapura. Karena gajinya hanya Rp 1,2 juta, maka dia berangkat ke Tiongkok yang dijanjikan digaji sekitar Rp 4 juta," ucapnya.
Sebagai orangtua, ungkap Nasriah, ketika itu dirinya hanya berpesan kepada Wanipah agar senantiasa menjaga diri di negeri orang. Selama tujuh tahun merantau pun, Nasriah baru menerima kiriman uang sebesar Rp 2 juta saja dari Wanipah. Kiriman itu diterimanya setelah Wanipah bekerja sekira enam bulan.
"Bukannya Wanipah enggak mau kirim. Tapi, kami keluarga melarang dia untuk kirim uang. Takut habis kalau dikirimi uang. Yang penting kami bisa makan saja. Saya suruh dia uangnya ditabung. Nanti saja bawa uangnya sekalian pulang ke Indonesia," ucap ibu rumah tangga yang memiliki 2 putri dan 1 putra itu.
Keluarga Nasriah mengaku pasrah dengan vonis mati yang diterima putrinya. Namun, besar harapan mereka dapat dipertemukan barang sekali saja.
"Setidaknya, kami ingin mendengar suaranya. Kalau bisa, kami ingin melihat. Syukur-syukur bisa ketemu langsung. Tolong sampaikan kepada pemerintah, yak Nak," ujar Nasriah dengan suara lirih.
Sementara itu, Jayadi (60), ayahanda Wanipah, yang tak lama kemudian kembali dari sawah, memilih diam dan termenung ketika istri dan ibunya menceritakan perihal anak gadisnya. Pandangan Jayadi yang berkaca-kaca menunjukkan betapa rindu dirinya kepada putrinya itu.
Ketika meminta konfirmasi Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kabupaten Indramayu, Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Indramayu Daddy Haryadi mengetahui perihal kasus tersebut. Namun, dia menyebutkan bahwa kewenangan berada di Kementerian Luar Negeri yang bisa menindaklanjuti kasus tersebut.
Sementara itu, Bupati Indramayu Anna Sophanah mengaku prihatin atas musibah yang menimpa Wanipah dan keluarganya. Untuk itu, Anna akan berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri.... Wahana Management

Bagikan Postingan Melalui FB &Twitter ( Caranya Tinggal Klik )

Artikel yang sering di kunjungi Oleh Sobat Monoton27