Permata Bernstein

 

 Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo 

 Sumber: Kompas, Edisi 11/10/2002 

            BARU pertama kali aku dan sahabatku, Alex, menginjakkan kaki di Irkutzsch-malam hari menjelang Natal tahun itu. Ilyushin tua yang mendaratkan kami di Siberia Timur ini landing-nya gentayangan, bikin punggung berdenyutan seperti kena mesin pijat yang disetel buat menggarap otot-urat yang nyeri-nyeri kena lumbalgi. Sejak turun dari pesawat RRC itu, Alex nampak sudah lemas dan capek. Belum lagi lima menit kami duduk di ruang-tunggu, seorang petugas sekuriti bandara itu mendatangi kami berdua yang baru saja meletakkan pantat di sebuah bangku sekadar istirahat duduk sambil menunggu jam berangkat Aerovlot jurusan Moskwa. Follow me please...," kata petugas itu kepadaku. WWW WAku spontan berdiri, memesan pada sahabatku agar menjaga mantel dan handbag besar bawaanku. "Take it with you," perintahnya tegas. Dia ngomong Inggris dengan perfek-bahasa rutin personal sekuriti bandara transit negara mana saja. Mendegup juga jantungku ketika itu. Bukan karena tas dan mantel mesti dibawa (dia tentu merasa perlu memeriksa barang-barang penumpang), tapi karena cuma aku yang disasar, Alex tidak, pasasir lain pun tidak. 
           Tentu ada sebabnya. Barangkali pakaianku, tampangku, atau gerak-gerikku mirip bajingan atau spion barat yang kasak-kusuk masuk ke daerah wewenangnya. Beberapa penumpang Jerman yang tadi kulihat berangkat sepesawat dari Beijing bersama kami nampak santai saja, duduk main kartu mengelilingi sebuah meja di bawah temaram neon ruangan yang agaknya dilanda tindakan penghematan. Ketika melewati kelompok itu, tiba-tiba kulihat di antara mereka seorang lelaki yang pernah beberapa kali melayani kami di kedutaan RDJ1. Spontan saja aku menyapa: "Gutenmorgen,...... Sind Sie auch hier?2" Dia tak menyahut, padahal kami saling pandang. Di luar dugaanku dia bersikap begitu. Wajahnya datar seperti tak punya minat menjawab tegur-sapaku. Tersenyum saja pun tidak. Pandangnya cepat kembali tertuju ke main kartu. Karena malu, aku pun agak klincutan menghindar dari mata si Jerman. 
            Tapi, aku yakin benar lelaki itu mengenalku, malah beberapa hari sebelumnya telah menjamu kami, Alex dan aku, minum teh dan makan kue di kantor kedutaannya ketika kami mengurus visa. Sebuah layanan berlebihan, namun bukan tanpa alasan. Ketika itu dia memancing-mancing, mengapa kami pergi ke barat, tak ingin tinggal di Jerman. Jerman Timur maksudnya. Bisa studi di sana jurusan apa saja, bahkan bisa minta Stipendium3. Dia juga tak lupa melampiaskan sindiran terhadap RRC: "Mereka dijangkiti ambisi negara besar." Alex menjawab dengan gaya jurnalisnya: "Belum sampai ke taraf Amerika. Tapi syarat mereka punya: tanahnya luas, industri galak, minyak banyak, ahli tak kurang, penduduk melimpah, tinggal satu rintangan saja...." "Rintangan apa menurut kalian?" tiba-tiba dia tertarik pada celoteh Alex, ingin mengorek informasi tangan pertama. "Pertentangan intern partai! Perjuangan klas dalam pimpinan tingkat atas...," jawab sahabatku agak menggebu. Terang saja jawaban itu memancing pembicaraan berkepanjangan diseling jamuan teh dan makan kue. Jadi, tak mungkin si Jerman itu tak kenal aku. Dia tentu cuma pura-pura. 
            Tapi, apa sebabnya? "Follow me sir, be hurry...," tegur pejabat yang menggiringku, nampak tak senang bahwa mataku meleng. "Sorry," kataku dengan sedikit tersipu sambil mempercepat langkah menuruti perintahnya. "Tuan tentu keliru. Rupanya dia bukan orang yang tuan sangka," terkanya. "Tidak," bantahku. "Tak mungkin keliru. Saya ketemu dia di Kedutaan Jerman di Beijing, lebih dari tiga kali. Yang terakhir baru minggu lalu ketika kami mengambil paspor dan visa RDJ." Pejabat itu diam, tapi mengangguk-angguk. Dibawanya aku melewati sebuah gerbang masuk ke ruangan besar. Di sana kami menuju ke deretan kabin yang masing-masing punya pintu-angin, lalu memasuki satu di antara kabin-kabin itu. Tanpa menunggu perintah kutaruh handbag-ku di meja segitiga berkaki satu yang terpancang menyudut ke tembok. Ketika mantel kusangkutkan ke cantolan, dia mencegah. "Keluarkan semua isinya," tangannya merenggut mantel itu, menaruhnya di atas meja. Sehelai sapu tangan, segenggam permen kecut, sebungkus Lucky Strike dengan sahabatnya: korek Ronson. Itu saja isi saku mantelku. 
            Semua kuletakkan di meja. "Nothing more?" "That's all," jawabku. "Saku-dalam, saku-dada kiri-kanan, keluarkan semua isinya, please." Dompet dan pasporku! Aku memang lupa mengeluarkan isi saku-dalam mantel itu. "Sorry," sesalku, "...I've just forgot it, this ugly me...." Aku harap mulutnya sedikit tersenyum oleh pengakuan kepikunanku. Tapi, tidak. Dia menggerakkan alis yang setebal jari jempol: merengut dengan serius. "Keluarkan isinya, please," telunjuk jarinya menuding dompetku sambil meneliti pasporku. Isi dompetku dua ratus US-dollar. Aku dapat itu dari pegawai konsulat sebuah negeri Skandinavia di kantornya di Beijing, juga ketika mengurus visa bersama Alex. Itu sebuah transaksi pribadi yang terjadi karena pejabat konsulat itu bersedia menukar US-dollarnya dengan Hongkong-dollar milik Alex plus milikku. Kami butuh US-dollar buat berangkat ke Eropa, dia butuh Hongkong-dollar buat melancong ke Hongkong, padahal valas barang langka di sana. Meski kami bukan diplomat, toh tahu kebiasaan transaksi demikian di kalangan CD4 ibu kota RRC. Tak ada hitungan untung-rugi antara kami. 
            Pas-pasan saja seperti kursnya. Tapi, tiba-tiba aku khawatir, jangan-jangan asal-usul dollarku dipersoalkan, padahal hidup di perjalanan ke Barat mau tak mau tergantung dollar. Ternyata, aman saja. Dia tidak menaruh selera. "Tuan singgah di Moskwa?" urus pejabat itu ketika meneliti transit-visaku. "Tidak. Cuma stopover," jawabku ringkas. "Sebaiknya Tuan melihat Moskwa. Indah bukan main. Tuan mesti nonton Bolshoi. What a wonderful journey you have..." "Just a sentimental journey. Lain tidak." Dia tergelak, tapi lantas melanjutkan penggeledahan, memeriksa lipatan-lipatan kertas berisi catatan nama dari beberapa kenalanku di Berlin, Paris, Amsterdam, Stockholm. Sekali lagi alisnya mengkerut. Mungkin dia mengira aku punya jaringan rahasia skala dunia. Dengan jlimet dia juga tak lupa memeriksa isi handbag-ku. Jelas mengesankan seorang pejabat yang jujur, berdisiplin, teliti, pengabdi setia tanah airnya: Uni Soviet. "Permata Bernstein murah di Moskwa, Sir...," katanya tiba-tiba, suaranya sedikit berbisik. 
           Aku mendadak khawatir, orang ini barangkali pura-pura saja pejabat douane biasa, tapi siapa tahu dia petugas dinas KGB5. Bila aku tak hati-hati, bisa celaka seperti ikan kena pancing. "Sayang, saya tak punya cukup uang," jawabku. "Dua ratus dollar, Sir, bayangkan! Di Barat bisa naik lipat empat jika tuan jual di sana. Bernstein Siberia itu top quality, the best in the world. Mereka suka!" "Saya percaya, tapi sayang saya tak punya bakat dagang...," aku pun makin berhati-hati. "Bakat itu tak perlu," bantahnya. "Don't worry, Sir. Aman. Nothing to do with customs. Gunakan kesempatan, Sir, singgah di Moskwa. Tak dua kali Anda hidup di dunia ini!" bujuknya. "Kalau saja ada waktu...," elakku, sekadar ingin mengakhiri percakapan. Tapi, dia mendesak lagi: "Anyway, kalau Anda tak ada waktu di Moskwa, di Irkutzsch sini Bernstein lebih murah lagi. Jangan ragu Sir. Bisa beli dari saya. Okey?" Dan dia mengeluarkan sekantung benda yang ditimang-timangnya di telapak tangan. Dikendorinya tali kantung itu. Nampak olehku selingkar permata Bernstein berbentuk kalung atau gelang, coklat muda menyorotkan keindahan cahayanya. 
           Jantungku kembali mendenyut lebih cepat. Aku mulai yakin akan kejujurannya. Maksudku kejujuran terhadapku untuk nyeleweng dari tugasnya. Batu permata memang kegemaran kakek-nenekku turun-temurun. Aku pun sudah menyimpan beberapa butir batu Giok dari Tiongkok dalam kopor bagase: sekadar persiapan menghadapi hari depan yang tak berketentuan. Akan lengkap pula jika aku menerima tawarannya. Dan dia terus mendesak: "Tinggal setengah jam, Sir. Aerovlot siap berangkat." "Maafkan ya," kataku, "... lima belas dollar?" Dia tak mengangguk. Menggeleng juga tidak. Wajahnya nampak riang. Aku yakin dia setuju menerima tawaranku. Kulekatkan lembar-lembar US-dollar di telapak tangannya. Dia pun menyodorkan kantung itu ke tanganku. "Fine, thank you, sir.... Have a beautiful journey." Disalaminya aku. Lucky Strike dan korek Ronson sengaja kutinggalkan di meja. Dia pun nampak sengaja tak mengingatkannya sebagai barangku yang ketinggalan. Dibiarkannya aku keluar sendirian. 
              ***RISKAN atau tidak transaksi itu terjadi. Ketika aku keluar dari ruang pemeriksaan, kulihat Alex masih berada di tempat semula. Apa yang tadi kualami kubisikkan. Komentar Alex: "Gila kau," matanya membelalak. "Lima belas dollar? Itu bisa buat makan sebulan di Yogya!" "Mimpi kau, Lex! Kau pikir kita di Tanah Air?" sengolku. "Tapi, lima belas dollar! Itu kelewat mahal!" "Mahal? Aku kenal harga permata...." "Aku bayar lima dollar dua kantung. Percaya enggak? Pejabatnya perempuan." "Ha...?" aku ganti membelalak. "Tadi kukira kau tidak diperiksa. Ternyata digaet juga?" "He-eh..." "Jangan-jangan di Moskwa nanti kita diperiksa lagi," kataku. "Pasti tidak," kata Alex. "Mata seluruh dunia tertuju ke sana. Kalaupun ada penggeledahan, tentu tidak terang-terangan. Moskwa perlu terkesan aman di mata semua bangsa." Alex ketawa-tawa dan tak henti-hentinya mengejek kekalahanku. Untung tak lama kami menunggu keberangkatan Aerovlot jurusan Moskwa. Dalam bus menuju ke tangga pesawat itu kulihat kembali si Jerman berdiri agak di tengah. Aku sengaja mendekatinya, berdiri di sisinya. Dia pasti tahu, tapi tetap saja pura-pura tak melihatku.              
            Tak kusangka dari mulutnya kudengar suaranya pelan: "Es ist hier besser when wir nicht miteinander sprechen...."6 Aku pun bungkam, menyadari kenaifanku sendiri, ada kala manusia merasa takut membuka mulut. Stopover di Omsk berlangsung dini hari. Di bandara Siberia Tengah ini pasasir mondar-mandir nampak lebih banyak dari yang kami duga. Malah mirip pasar loak. Orang-orang berdesakan sibuk dengan macam-macam urusan. Nampak pemuda-pemuda Rusia menawar jaket atau mantel winter yang melekat di badan orang. Juga kudengar di kanan-kiri pasasir menawar Bernstein. Arloji Shanghai-ku ditawar rubel, tapi itu benda kenangan, takkan kulepaskan. Hebat juga manusia di Siberia ini berjuang di dini hari sekadar merebut sedikit rezeki. Urusan Alex lain lagi. Sangat mendesak. Perutnya mulas, tapi kian-kemari tak juga ketemu WC. Perut itu tak berkenan bersentuhan dengan yoghurt kecut yang dia makan sebelum Aerovlot mendarat. Dia buru-buru lari meninggalkan "pasar loak" itu ketika berhasil menampak tulisan "WC". Tas dan mantelnya dia tumpuk begitu saja di lenganku, lalu lari. Tapi, sial, dia dikejar seorang petugas wanita yang tentu saja mencurigainya. "Hallo! Stop!" cegah si petugas. 
            Alex terkejut dan berhenti dengan melintir-lintir perut. "Follow me, Sir!" perintah si petugas. "No, no...," tolak Alex. "Impossible!" "I say... follow me!" "Sorry...., kebelet nih...," sahut Alex, mendadak lupa Inggris-nya. "What?" bentak si petugas. "I must go quickly right there.... My stomack, oooh...," dia menjelaskan dengan menekan-nekan perutnya. Si pejabat ternyata toleran. Alex dibiarkannya lari masuk ke WC, parkir di sana hampir setengah jam lamanya. ***BENAR juga dugaan Alex: Moskwa aman. Kami tak mengalami penggeledahan. Gema musik Rusia mengalun di ruang-ruang tunggu dan restoran. Beberapa pelayan dan pengepel lantai restoran laki-perempuan nampak giat bekerja sambil menggerak-gerakkan badan mengikuti irama balalaika. Hampir-hampir kami tak percaya, di negeri angker ini kegenitan anak-anak manusia masih bisa dipertontonkan. Satu-satunya yang menjengkelkan kami cuma pengumuman lewat loudspeaker: Interflug7 jurusan Berlin berangkatnya tertunda lima jam. 
            Tanpa keterangan apa sebabnya. Kami pun memasuki ruang-tunggu khusus bagi pasasir Interflug. Selera masuk restoran masih harus ditekan karena jam sarapan belum dibuka. "You are coming from Beijing?" tiba-tiba kami dengar suara seorang perempuan mendekati kami, dari pakaiannya jelas petugas sekuriti bandara Moskwa. "Yes," hampir bersamaan kami menjawabnya. "Follow me, please...," perintah yang itu-itu lagi. "Modiar!" bisik Alex ke telingaku. "Mau apa kita sekarang?" Kali ini kami berdua bersama-sama digiring keluar dari grup Interflug menuju pintu sebelah kiri restoran. Kami melewati juga deretan kabin-kabin mirip bilik-bilik pemeriksaan, tapi kami tidak dibawa masuk ke sana. Kali ini pasti urusan gawat, pikirku. Orang-orang Rusia tidak akan sebodoh yang kami duga. Aku kini yakin sekali. Barangkali Alex juga berpikir begitu, tapi kami bungkam, tak berani berbicara. Akhirnya kami disilakan masuk ke sebuah ruangan berdinding kaca tertutup gorden kelabu. Si petugas begitu saja lantas meninggalkan kami. "Selamat datang di Moskwa!" suara dua orang setanah airku yang tak pernah kami kenal. 
            Mereka menunjukkan wajah gembira menyalami kami. "Jangan kaget, Bung. Selama ini selalu menjadi kewajiban kami membantu orang setanah air. Kiranya bantuan apa yang kalian butuhkan?" Saking kagetnya kami pun terdiam, menyambut salam mereka tanpa ingat nama. Siapa pun yang mengalami peristiwa demikian, perlu mengerti reaksi pertama di hati kami: curiga. Lepas dari misi kemanusiaan seperti yang mereka ucapkan, hanya kecurigaan saja yang mengganggu benakku. Segera pula aku sadar, transit-visa lewat Moskwa tidak begitu sederhana lekuk-likunya. Lebih tak masuk akal lagi, mereka juga menawari kami untuk tinggal di Moskwa. Seolah kekuasaan negeri ini sudah pindah ke tangan mereka. Kenaifan apa pula yang kini perlu kami akui? "Begini, Bung," jawab Alex, "Kami mau ke Jerman Barat, di sana ada kenalan, buat sementara segalanya telah tersedia. Harap jangan repotlah. 
                Terima kasih atas perhatian kalian." Pembicaraan itu berlangsung hampir satu jam dan berakhir dengan penyesalan. Ada kala rotasi bumi memang mengguncang kepala semua orang untuk berpikir dan berpikir, mengapa penyesalan seperti itu perlu terjadi. Dan permata Bernstein itu! Bettina-mahasiswi kenalan kami di Bonn-gagal mencoba menjualnya. Beberapa toko permata menolak membelinya. Menawar pun tidak. Semuanya permata palsu dari plastik. "Modiar lu!" kutuk Alex padaku, juga pada diri sendiri.

Permata Bernstein 4.5 5 Om Dadi  Cerpen: Soeprijadi Tomodihardjo   Sumber: Kompas, Edisi 11/10/2002              BARU pertama kali aku dan sahabatku, Alex, menginjakka...


No comments:

Post a Comment

Silahkan kasih komentar anda di kolom komentar di bawah.
Dengan baik,sopan,ramah dan penuh tanggung jawab, agar bisa memberikan kenyamanan bagi pengunjung lain.terimakasih sudah mengunjungi blog ini :), Tapi maaf di larang berkomentar spam di antaranya:
1. Di larang berkomentar OOT (Out Of Topik) di luar topik/ postingan di atas
2. Di larang komentar iklan-jualan obat-obatan
3. Di larang meninggalkan Link aktif (Alamat Web/Blog)
Jika ingin OOT atau Ninggalin Link Aktif silahkan masuk di menu CONTACT di atas, bagi yang melanggar akan di hapus oleh admin :) . Berkomentarlah yang sesuai dengan postingan di atas Terimakasih